|
PENGARUH JUMLAH EKSPLAN DALAM BOTOL DAN KONSENTRASI EKSTRAK TOMAT PADA MEDIA VACIN DAN WENT TERHADAP PERTUMBUHAN PLANLET ANGGREK Abstrak Peningkatan jumlah eksplan dalam botol hingga 27,3 – 27,8 eksplan mampu meningkatkan panjang akar, jumlah daun dan berat segar planlet anggrek. Konsentrasi ekstrak tomat hingga 151,7 – 163,1 g/l mampu meningkatkan tinggi planlet, panjang akar, jumlah daun dan berat segar planlet. Peningkatan jumlah eksplan dalam botol memberikan respon yang sama pada konsentrasi ekstrak tomat yang meningkat pada seluruh parameter. BAB I PENDAHULUAN Anggrek termasuk tanaman dari keluarga Orchidaceae. Tanaman berbunga in-dah ini tersebar di pelosok dunia, termasuk di Indonesia. Dari 20.000 spesies anggrek yang tersebar di dunia, 6.000 diantaranya berada di hutan-hutan Indonesia. Selain anggrek spesies, dikenal juga beberapa jenis silangan atau hibrida yang diperkirakan setiap tahun dihasilkan 1.000 hibrida baru (Sandra, 2001). Menurut Sarwono (2002), dari berbagai jenis bunga potong, tanaman anggrek-lah yang paling banyak jenis dan variasi bentuknya. Bentuk, warna dan karakter bu-nga anggrek dianggap yang paling unik, sehingga faktor ini menjadi salah satu daya pikat anggrek potong. Bunga merupakan unsur terpenting dari tanaman anggrek. Struktur bunganya sudah baku, terdiri dari tiga kelopak (sepal) dan tiga tajuk bunga (petal). Salah satu petal berubah menjadi bibir bunga atau labelium, bagian ini menjadi ciri khas anggrek, sehingga berbeda dengan famili tanaman bunga lainnya (Sandra, 2001). Salah satu anggrek yang tersebar di seantero hutan tropis adalah Dendrobium. Anggrek ini cukup cantik dan menawan serta mempunyai sifat unggul, antara lain bunganya yang tahan lama. Warna kuntum bunganya tidak mudah pudar dan tidak mudah rontok atau layu sampai beberapa waktu lamanya (Osman dan Prasasti, 1991). Marga Dendrobium terdiri dari sekitar 1.400 spesies. Penyebaran Dendrobium di alam sangat luas, dari Srilangka hingga Hawaii dan dari Australia hingga Jepang. Pu-sat penyebarannya terdapat di Himalaya, Myanmar, Maluku dan Irian Jaya (Sarwo-no, 2002). Di Indonesia, anggrek sudah menjadi bahan perdagangan besar dan dibudida-yakan secara besar-besaran sebagai sumber pendapatan bahkan devisa Negara. Dalam budidaya besar-besaran, kualitas bunga harus beragam. Untuk memenuhi kebutuhan bibit anggrek semacam ini diperlukan suatu teknik perbanyakan yang tepat (Anomin, 2001a). Perbanyakan tanaman anggrek terdiri dari dua cara, yakni perbanyakan secara gereratif dan secara vegetatif. Perbanyakan generatif adalah perbanyakan yang dila-kukan dengan menggunakan biji. Sedangkan perbanyakan vegetatif adalah perba-nyakan dengan menggunakan bagian-bagian tubuh tanaman dengan cara stek, keiki, pemisahan rumpun dan kultur jaringan (Iswanto, 2002). Biji-biji anggrek tidak mempunyai endosperm, yaitu cadangan makanan seper-ti biji tanaman lain. Cadangan makanan ini diperlukan dalam perkecambahan dan pertumbuhan awal biji. Oleh karena itu, untuk perkecambahannya diperlukan gula dan persenyawaan lain dari luar atau dari lingkungan sekelilingnya. Hal ini yang me-nyebabkan tanaman anggrek lebih cocok diperbanyak dengan menggunakan teknik kultur jaringan (Gunawan, 2002). Teknik kultur jaringan dengan menggunakan usaha propagasi akan dihasilkan tanaman dengan jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat. Propagasi merupa-kan suatu cara pembiakan secara vegetatif untuk mendapatkan suatu populasi yang mempunyai sifat morfologis dan sifat genetik yang sama (Hendaryono dan Wijayani, 1994). Pelaksanaan propagasi anggrek melalui empat tahap, yaitu overplanting dan pemindahan, budidaya dalam komuniti pot, budidaya dalam pot individu dan pemeli-haraan anggrek dewasa. Over planting adalah pemindahan bibit anggrek (planlet) ke dalam botol steril yang baru untuk pemenuhan kebutuhan nutrien, tetapi komposisi garam sama dengan yang sebelumnya. Apabila dalam tiga bulan media agar tidak di-ganti, maka media akan tampak kecokelatan, menjadi tipis dan mengering, sehingga daun planlet akan menguning (Hendaryono, 1998). Salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan kultur jaringan, yaitu me-dia kultur. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimal-kan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan (Yusnita, 2003). Me-dia kultur jaringan terdiri dari beberapa versi, salah satunya adalah media Vacin dan Went. Media ini merupakan media yang dianggap paling baik untuk kultur jaringan anggrek (Osman dan Prasasti, 1991). Media padat Vacin dan Went disimpan dalam botol-botol anggrek yang penyimpanannya diletakkan secara horisontal, sehingga me-dia agar posisinya miring (Hendaryono, 1998). Media yang digunakan dalam kultur jaringan haruslah mengandung garam-garam mineral yang terdiri dari unsur-unsur ma-kro dan mikro, sumber karbon, vitamin, asam-asam amino, zat pengatur tumbuh, bahan organik kompleks, seperti air kelapa, ekstrak buah pisang, ekstrak buah tomat dan la-in-lain (Hendroyono dan Wijayani, 1994). Planlet dalam botol media Vacin dan Went diatur dengan rapi berjarak kurang lebih sama satu dengan yang lain. Diperkirakan dalam waktu tiga bulan, planlet su-dah memenuhi botol (Hendaryono,1998). Planlet anggrek dalam botol masih berupa kecambah dengan daun berjumlah dua sampai empat helai dan baru mulai keluar akar (Anonim, 2001b). Planlet yang siap untuk ditanam berumur 6 – 10 bulan. Planlet yang dipilih adalah planlet yang segar, berwarn hijau secara keseluruhan, serta tidak menampakkan adanya serangan jamur atau bakteri (Hendaryono, 1998). Menurut Harjadi (1993), kerapatan optimum ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan ekonomi dalam menentukan keuntungan optimum. Apabila dilihat dari pertimbangan ekonomi, maka penggunaan ekstrak tomat dirasakan mempunyai nilai ekonomi yang rendah dibandingkan dengan ekstrak pisang ambon, kentang, kapri, apel dan alpokat. Namun diharapkan dengan penanaman bibit yang optimum akan menghasilkan keuntungan yang optimum pula. Selain kerapatan bibit, penambahan bahan organik seperti ekstrak tomat, sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan bibit anggrek. Pemberian sari buah tomat pada kultur steril, mampu mendorong pertumbuhan akar, walaupun kultur itu berkadar sukrose 5% yang biasanya menghambat perpanjangan akar. Sari buah tomat yang dipergunakan untuk hal tersebut berkadar antara 10 – 15% per liter atau 100 – 150 g/liter (Kusumo, 1990). Menurut Kusumo (1990), sari buah tomat seringkali menjadi penghambat per-tumbuhan. Sari buah tomat kadar 5% pada media kultur tertentu telah menunjukkan hambatan tersebut. Sari buah tomat stabil apabila disterilisasi dalam autoklaf dengan media ber pH 5,5 selama 20 menit dengan tekanan 15 lbs. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah eksplan dalam bo-tol terhadap pertumbuhan planlet anggrek spesies Dendrobium dan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak tomat pada media Vecin dan Went guna menghasilkan pertumbuhan optimal planlet anggrek spesies Dendrobium. Penelitian ini menduga bahwa dengan konsentrasi 150 g/l ekstrak tomat dan jumlah eksplan 30 per botol dapat menghasilkan pertumbuhan planlet anggrek Dendrobium yang paling optimal. |