DOMINASI KEKUASAAN DAN RESISTENSI MASYARAKAT - Studi Konflik Peremajaan Pasar Senapelan di Kota Pekanbaru, Riau

Abstract

Local autonomy policy has provided wide opportunities for local goverments to implement development policy that is more supporting to people. So, development can be felt by people in hinterland area. Flexibility of local government to manage the ir own area is not always positive impact for people; in some area, it create negative impact for people due to power domination. Power dominance in development has led vertical conflict between Pekanbaru goverment and investor in one side and traditional trader of Senapelan market in other side. The power dominance raised resistant action of trader. It is a qualitative research. The research is done in kelurahan Padang Bulan, Senapelan district, Pekanbaru town. There is a one of four main markets in central of Pekanbaru town, with over 2000 traders. Data collection was done with interview, observation and documentation. To determine informant, purposive sampling. Interview and observation was used as primary data. Secondary data was obtained trought documentation. Result of the study indicates that power dominance is realized through: 1) nonparticipative policy- making, 2) repressive action, and 3) cooptation over press and trader organization. There are to resistance of trader: 1) public transcript by demonstration, hunger strike and written statement, and 2) hidden transcript through curse action, destroying TPS, not paying installment and not doing registration. In addition, support on the resistance come from specialist supporter (student, NGO, and intelectual), and general supporter (local public figure). Resolutin have been done through mediation and conciliation. Mediation was done by Pekanbaru DPRD and IKMR, while conciliation was made by Pekanbaru government and investor. However, this research found reality that mediating and conciliation did work effectively. The fact was that power dominance was done by local government on the mediating and conciliation, while the traders is in subordinated or repressed position.

Key words : power dominance, resistance, conflict resolution

Bab I

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang 

Konflik adalah gejala kemasyarakatan yang akan senantiasa melekat dalam kehidupan setiap masyarakat, dan karena itu tidak mungkin dilenyapkan (Nasikun, 2003). Sebagai gejala kemasyarakatan yang melekat di dalam kehid upan setiap masyarakat, ia hanya akan lenyap bersama lenyapnya masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, konflik yang terjadi hanya dapat dikendalikan agar tidak terwujud dalam bentuk kekerasan atau violence (Nasikun, 2003).

Konflik sosial biasanya terjadi karena adanya satu pihak atau kelompok yang merasa kepentingan atau haknya dirampas dan diambil oleh pihak atau kelompok lain dengan cara- cara yang tidak adil. Yang oleh Karl Marx di kenal dengan surplus value (Susetiawan, 2000 dan Johnson, 1986). Dan konflik ini dapat terjadi secara horizontal maupun vertikal (Nasikun, 2003).

Konflik horizontal terjadi antara kelompok- kelompok yang ada dalam masyarakat, yang dibedakan oleh agama, suku, bangsa, dan lain- lain. Sedangkan konflik vertikal biasanya terjadi antara suatu kelompok tertentu dalam masyarakat atau lapisan bawah dengan lapisan atas atau penguasa (Scott, 2000 dan Sangaji, 2000).

1.2. Rumusan Masalah

Aksi penentangan demi penentangan terus dilakukan oleh pedagang terhadap kebijakan Pemkot, walaupun para pedagang sadar, bahwa tuntutan mereka akan sulit untuk terpenuhi, bahkan di saat pondasi pembangunan pasar Senapelan tersebut mulai dilakukan awal bulan Juli 2004 lalu. Kebijakan seperti ini, bukan hanya sekali terjadi di Pekanbaru, beberapa waktu lalu, Pemkot juga mangeluarkan kebijakan peremajaan pasar Pusat atau Suka Ramai yang berdekatan dengan pasar Senapelan. Kebijakan ini juga menuai protes dari pedagang pasar Suka Ramai dikarenakan harga kios yang terlalu mahal bagi pedagang. Selain itu, Pemkot juga menggandeng investor yang sama dengan investor yang membangun pasar Senapelan, yaitu P.T. PMJ, dengan konsep bangunan yang sama. Dan konflik ini juga tidak dapat terselesaikan dengan baik.

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk dapat menggambarkan tentang:

1. Bentuk-bentuk dominasi yang dilakukan oleh kekuasaan terhadap kaum tertindas.

2. Bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan oleh para pedagang terhadap dominasi kekuasaan.

3. Resolusi yang diupayakan atau berlaku dalam konflik tersebut.

1.4. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka manfaat penelitian ini adalah untuk:

1. Mengetahui bentuk- bentuk dominasi kekuasaan

2. Mengetahui bentuk- bentuk perlawanan yang dilakukan oleh para pedagang

3. Mengetahui resolusi yang diupayakan atau berlaku dalam konflik tersebut.

1.5. Kerangka Teori

Konflik merupakan peristiwa yang seringkali terjadi dalam kehidupan kemasyarakatan. Berkaitan dengan konflik, Neil J. Smelser (Muchtar, Usman, dan Trijono, 2001) menyatakan bahwa: “ Teori konflik modern membuat asumsi sebagai berikut: a) yang utama pada masyarakat yang akan datang adalah perubahan, konflik, dan kekerasan; b) struktur masyarakat didasarkan pada dominasi oleh beberapa kelompok terhadap kelompok lain; c) masing- masing kelompok dalam masyarakat memiliki kecenderungan perhatian umum, apakah para anggotanya memahami atau tidak; d) ketika orang- orang memahami kecenderungan umumnya, mereka mungkin membentuk kelas sosial, dan e) intensitas konflik kelas bergantung pada adanya kepastian politik dan kondisi sosial.”

1.6. Metode Penelitian

Metode penelitian didefinisikan sebagai ajaran mengenai cara- cara yang digunakan dalam proses penelitian. Metode berguna untuk memberikan ketepatan, kebenaran dan pengetahuan yang mempunyai nilai ilmiah yang tinggi (Kartono, 1996). Untuk itu, penelitian ini akan memaparkan beberapa cara sebagai batasan untuk mencapai kebenaran ilmiah, yakni: jenis penelitian, lokasi penelitian, teknik pengumpulan data, pemilihan informan, dan teknik analisa data.

1.7. Batasan Waktu dan Hambatan Penelitian

Penelitian ini dibatasai pada jangka waktu tertentu dikarenakan penelitian ini merupakan penelitian tentang konflik vertikal yang belum usai sampai sekarang. Dengan begitu, diharapkan tidak terjadi kekeliruan dan kesalahan dalam memahami permasalahan yang ada dalam penelitian ini. Dan untuk memberikan peluang kepada peneliti- peneliti selanjutnya melakukan penelitian.

Data- data yang dianalisa dibatasi pada jangka waktu tertentu sesuai dengan kondisi data yang didapat pada waktu itu. Penelitian ini dibatasi pada data- data yang berkaitan dengan dominasi kekuasaan, perlawanan, dan resolusi yang terjadi dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2004. Oleh sebab itu, penelitian hanya mengungkapkan bentuk- bentuk dominasi kekuasaan, bentuk- bentuk perlawanan pedagang, dan upaya resolusi konflik yang terjadi di kota Pekanbaru dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2004 yang berkaitan dengan peremajaan pasar tradisional menjadi pasar modern.

Sedangkan kendala - kendala yang dihadapi dalam penelitian ini adalah kesulitan dalam mewancarai dan mendapatkan data - data tertulis, baik dari pihak pedagang maupun pemerintah. Akumulasi kekecewaan dan penderitaan yang masih dialami oleh pedagang pasca pembongkaran kios, menjadikan pedagang bersikap dingin terhadap upaya- upaya dari orang- orang baru yang ingin mengorek informasi dari mereka. Para pedagang cenderung untuk bersikap tertutup dan tidak ambil pusing terhadap orang-orang baru tersebut. Pedagang biasanya akan menginterogasi dahulu dengan sedikit sinis, dan memandang penuh kecurigaan terhadap orang- orang baru tersebut.