|
REAKSI PASAR MODAL DALAM INDEKS LQ 45 DI BEJ TERKAIT DENGAN SIKLUS BANJIR 5 TAHUNAN DI JAKARTA Abstrak Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui bagaimana reaksi pasar modal dalam indeks LQ 45 di BEJ terkait dengan siklus banjir 5 tahunan di Jakarta untuk periode banjir tahun 2002 dan periode banjir 2007. Strategi penelitian dalam penelitian ini merupakan strategi penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana reaksi pasar modal dalam indeks LQ 45 di BEJ terkait dengan siklus banjir 5 tahunan di Jakarta sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ex-post facto yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian merunut kebelakang untuk mengetahui faktor-faktor penyebabnya. Populasi dalam penelitian ini adalah data saham harian indeks LQ 45 dan IHSG di BEJ.Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut-paut yang erat dengan kriteria yang diinginkan. Sampel dalam penelitian ini adalah indeks LQ 45 periode Januari 2001 sampai dengan Februari 2007. Untuk perhitungan market return (pengembalian pasar / IHSG), penulis mengambil data saham harian indeks LQ 45 untuk tahun 2002 mulai dari tanggal 25 Januari sampai dengan 14 Februari, sedangkan untuk tahun 2007 mulai dari tanggal 26 Januari sampai dengan 20 Februari. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat gejala siklikal yaitu setiap perodis terdapat gejala yang sama setiap banjir 5 tahunan terjadi. Pada saat peristiwa banjir terjadi baik untuk periode banjir 2002 dan 2007, Indeks LQ 45 di BEJ mengalami penurunan atau mengidentifikasikan bahwa terjadi reaksi di pasar modal. Bab I PENDAHULUAN 1.1. Masalah Penelitian 1.1.1. Latar Belakang Masalah Penelitian Pasar Modal Indonesia dalam perkembangannya telah menunjukkan sebagai bagian dari instrumen perekonomian, dimana indikasi yang dihasilkannya banyak dipicu oleh para peneliti maupun praktisi dalam melihat gambaran perekonomian Indonesia. Oleh karena itu komitmen pemerintah Indonesia terhadap peran Pasar Modal tercermin di dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, dimana dinyatakan bahwa Pasar Modal mempunyai peran strategis dalam pembangunan nasional, sebagai salah satu sumber pembiayaan bagi dunia usaha dan wahana investasi bagi masyarakat. Sebagai salah satu instrumen perekonomian Pasar Modal tidak terlepas dari pengaruh yang berkembang dilingkungannya, baik yang terjadi di lingkungan makro seperti kebijakan moneter, kebijakan fiskal maupun regulasi pemerintah dalam sektor riil dan keuangan maupun dilingkungan mikro seperti peristiwa atau keadaan para emiten seperti laporan kinerja, pembagian deviden, perubahan strategi perusahaan atau keputusan strategis dalam Rapat Umum Pemegang Saham akan menjadi informasi yang menarik bagi para investor di Pasar Modal. Tingkat kepekaan dinamika atau reaksi Pasar Modal akan berkembang sensitivitasnya tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi mikro dan makro saja, akan tetapi faktor-faktor nonekonomi seperti penegakan hak asasi manusia, kepedulian pada lingkungan hidup, peristiwa ketatanegaraan yang sarat dengan nuansa politik dan peristiwa bencana alam seperti gempa bumi dan banjir juga akan mempengaruhi pergerakan Pasar Modal. Peristiwa bencana alam dapat berdampak negatif bagi kestabilan iklim kondusif yang diinginkan oleh para investor untuk berinvestasi pada suatu Negara, ekspektasi mereka terhadap setiap peristiwa bencana alam yang terjadi akan tercermin pada dinamika atau reaksi di Pasar Modal. Peristiwa bencana alam yang baru saja melanda kota Jakarta yaitu banjir lima tahunan. Banjir hebat yang melanda Jakarta selama beberapa hari tersebut merupakan ulangan dari apa yang terjadi pada awal tahun 2002. Saat itu, banjir besar berkepanjangan melanda Jakarta dan sekitarnya. Semuanya berawal dari hujan lebat yang terjadi pada akhir Desember 2001. Hujan lebat pada dini hari itu terjadi di Jakarta Utara, tercatat di penakar hujan di Stasiun Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Tanjung Priok sebesar 210 milimeter (mm). Hari-hari berikut, hujan turun tak henti. Puncak hujan terjadi 29 Januari 2002, tercatat 250 mm di Bekasi. Banjir berskala besar pun terjadi pada akhir Januari dan awal Februari 2002. Curah hujan yang cukup tinggi, dataran yang hampir setengahnya lebih rendah dari lautan, serta berjejalnya 13 sungai yang mengelilingi Kota Jakarta, membuat kota ini sulit menghindar dari serbuan bah. Bencana banjir yang terjadi sepanjang awal tahun 2002 memang musibah terburuk dan patut ditetapkan sebagai bencana nasional. Sejumlah wilayah di Jakarta, Tangerang dan Bekasi yang sebelumnya tidak pernah terkena banjir, kini tidak bisa mengelak dari musibah itu. Jika dilihat dari sejarahnya dan kondisi geomorfologis, Kota Jakarta memang tidak bisa lepas dari persoalan banjir. Pasalnya, sekitar empat puluh persen wilayah ibukota terdiri dari dataran rendah pantai dengan ketinggian kurang dari 10 meter, bahkan di beberapa tempat berada di ± 1,00 meter di bawah muka air pasang (maksimum). Oleh karena itu, apabila air laut pasang, maka secara alamiah daerah dengan ketinggian rendah akan terendam. Banjir yang terjadi tahun 2007 ini merupakan banjir terburuk yang pernah dialami oleh Jakarta, bahkan lebih buruk dari banjir besar yang melanda Jakarta pada tahun 2002 lalu. Banjir terjadi mulai tanggal 2 Februari sampai dengan tanggal 13 Februari 2007. Sejak hari Kamis, 1 Februari 2007, hujan deras mengguyur Jakarta tanpa henti sampai hari Jumat 2 Februari 2007. Akibatnya, 70% kota Jakarta kebanjiran yang jika dibandingkan pada tahun 2002 luas daerah yang terkena banjir hanya sebesar 50%. Beberapa lokasi yang terkena banjir, antara lain meliputi : Kampung Melayu, Tanah Abang, Cipinang Besar, Bendungan Hilir, Petamburan, Kedoya Utara, Kepala Gading, Pulo Mas, Pejagalan, Kamal Muara, Sungai Bambu, Kebon Bawang, Warakas, Sunter, Tanah Tinggi, Tugu, Rawa Badak Utara, Koja, Semper, Cilincing, Kalibaru, Marunda, Ciledug, Kembangan, termasuk sebagian wilayah Tangerang, Bekasi, Depok dan Bogor tergenang banjir dengan beragam ketinggian dari 50 sentimeter sampai 5 meter. Hujan juga menyebabkan luapan air di pintu-pintu air penting di Jakarta, seperti pintu air Manggarai, Karet, dan Katulampa Bogor. Jakarta, mempunyai luas areal 661,62 km2 dengan luas areal yang sudah terbangun seluas 609, 61 km2 atau sama dengan 91,99 persen dari luas total wilayah kota. Ibukota Negara Republik Indonesia ini merupakan wilayah terpadat yang berpenduduk 7,515,286 jiwa, sesuai dengan sensus penduduk berkartu identitas Jakarta dan belum ditambah penduduk berkartu identitas non-Jakarta. Dengan kepadatan penduduk dan area terbangun, Jakarta hanya mempunyai 18,180 hektar Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk menyerap air ke dalam tanah. Akibatnya, setiap musim penghujan air hujan tidak dapat tertampung dan menggenangi sebagian besar daerah Jakarta, serta juga tidak dapat menyimpan cadangan air setiap musim kering. Banyak faktor yang mempengaruhi bursa saham, salah satunya adalah faktor politik saat ini dan penanggulangan bencana alam termasuk banjir dalam meyakinkan investor yang merupakan faktor kunci bursa di Indonesia. Jika bencana banjir yang terjadi dalam skala besar seperti yang terjadi di Jakarta pastinya akan mengganggu perdagangan saham di BEJ. Indeks LQ 45 merupakan salah satu dari empat jenis indeks yang ada di BEJ, yang menggambarkan sekelompok saham pilihan yang memenuhi kriteria likuid dan kapitalisasi pasar sebagaimana ditetapkan oleh BEJ. Saham pada kelompok LQ 45, tergolong saham pilihan yang baik. Namun demikian, keputusan berinvestasi tidak hanya memenuhi kriteria baik, tetapi juga benar. Keputusan investasi pada LQ 45 baik dan benar, ketika pasar atau bursa saham berada pada kondisi yang baik. Mayoritas anggota bursa memang telah melakukan perdagangan dengan sistem remote trading (perdagangan jarak jauh) seperti melalui ponsel dan internet tetapi banjir di Jakarta tahun ini begitu besar sehingga mengakibatkan lumpuhnya sektor vital perekonomian. Banjir yang berlangsung selama awal Februari ini telah banyak merusak jaringan infrastuktur seperti jalan dan padamnya aliran listrik di sejumlah wilayah di Jakarta. Demikian juga 70.000 jaringan telepon terputus dan 19.000 satuan sambungan layanan Speedy terganggu. Dengan adanya gangguan-gangguan ini memungkinkan terjadinya gangguan pada aktivitas perdagangan saham. BEJ telah membuka crisis center (pembukaan layanan nomor darurat) untuk membantu perdagangan saham yang diharapkan dapat mengantisipasi adanya gangguan jaringan telekomunikasi, tetapi rencana tersebut tidak dapat berjalan dengan maksimal. Hal ini dapat kita lihat pada perdagangan saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang terlihat sepi akibat banjir, karena banjir mengakibatkan para pialang tidak sepenuhnya melakukan aktivitas. Aktivitas di BEJ terlihat berjalan lambat dan menurun sehubungan adanya banjir yang melanda ibukota Jakarta yang mempengaruhi aktivitas pelaku pasar. Melambatnya perdagangan ini dapat terlihat dari transaksi yang terjadi pada hari senin (5/2/2007) sesi pagi yang hanya sebanyak 8.451 kali, dengan volume 572.631 juta saham dan nilai Rp.485,494 miliar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pagi ditutup melemah 6,437 point atau 0,36% berada di level 1.773,94 dan indeks LQ 45 terkoreksi 1,298 poin atau 0,34% ke level 380,625. Padahal setelah banjir 2002 tercatat bahwa pada awal 2003, indeks harga saham LQ 45 pada posisi 87,8 dan 30 April 2006 pada posisi 170,6. Berarti, kenaikan atau return saham pada waktu tersebut sebesar 72,8 poin atau 82,9%. Keseluruhan indeks harga saham gabungan (IHSG) dari posisi 409,1 menjadi 783,4 atau naik 91,4%. Hasil analisis statistik menunjukkan, perubahan harga saham pada LQ 45 bisa sebagai faktor penjelas (koefisien determinasi) terhadap perubahan IHSG. Kenaikan atau penurunan harga saham pada LQ 45 akan berpengaruh signifikan terhadap kenaikan atau penurunan IHSG. Melihat permasalahan-permasalahan tersebut diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Reaksi Pasar Modal Dalam Indeks LQ 45 di BEJ Terkait Dengan Siklus Banjir 5 Tahunan di Jakarta”. 1.1.2. Perumusan Masalah Pokok Penelitian Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat diajukan perumusan masalah pokok penelitian sebagai berikut : “Bagaimanakah reaksi pasar modal dalam indeks LQ 45 di BEJ terkait dengan siklus banjir 5 tahunan di Jakarta?”. 1.1.3. Spesifikasi Masalah Pokok Penelitian Sesuai dengan masalah pokok penelitian diatas, penulis mengajukan spesifikasi masalah pokok penelitian sebagai berikut : 1. Bagaimanakah market return (pengembalian pasar / IHSG) di BEJ untuk tahun 2002 selama terjadi peristiwa siklus banjir 5 tahunan di Jakarta? 2. Bagaimanakah market return (pengembalian pasar / IHSG) di BEJ untuk tahun 2007 selama terjadi peristiwa siklus banjir 5 tahunan di Jakarta? 3. Apakah terdapat gejala yang siklikal untuk periode banjir 2002 dan 2007 pada saat terjadi peristiwa siklus banjir 5 tahunan di Jakarta? 1.2. Kerangka Teori 1.2.1. Identifikasi Variabel-Variabel Penelitian Variabel penelitian ini adalah reaksi pasar modal dalam Indeks LQ 45 di BEJ sebagai variabel mandiri, karena ini merupakan penelitian deskriptif yang hanya memberikan gambaran tentang dampak dari peristiwa banjir. 1.2.2. Kajian Teoritis Pengertian reaksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah : 1. Kegiatan atau aksi yang timbul akibat suatu gejala atau peristiwa. 2. Tanggapan (respons) terhadap suatu aksi. 3. Perubahan yang terjadi karena berubahnya suatu unsur. Sedangkan menurut Suad.H pasar modal merupakan suatu tempat yang terorganisir dimana efek-efek diperdagangkan atau pasar yang mempertemukan pihak yang menawarkan dan memerlukan dana jangka panjang. Reaksi pasar yaitu suatu aksi yang timbul akibat suatu gejala atau suatu peristiwa yang dapat mempengaruhi pasar yang dapat menimbulkan nilai positif dan negatif. Pergerakan saham yang dapat mengidentifikasikan reaksi pasar modal dapat dilihat dalam market return (pengembalian pasar / IHSG). Market Return (pengembalian pasar / IHSG) merupakan gambaran situasi dari perdagangan di bursa efek. Market return yang bernilai negatif (negative market return) mengidentifikasikan bahwa situasi perdagangan di bursa efek cenderung kurang bergairah atau tidak atraktif, sedangkan market return yang bernilai positif mengidentifikasikan bahwa situasi perdagangan di bursa efek pada periode tersebut atraktif. Setiap bencana pasti akan menimbulkan kerugian atau masalah. Seperti masalah peristiwa banjir yang terjadi pada tahun 2007 ini dapat mengakibatkan suatu reaksi yang negatif di pasar modal khususnya dalam indeks LQ 45. Jika kegiatan pasar modal sudah terganggu ini akan berdampak pada kegiatan perekonomian di Indonesia. 1.2.3. Hipotesis-Hipotesis Penelitian Rumusan Hipotesis : Gerakan siklikal yang diduga paling rendah 100. 1. Gerakan siklikal untuk periode banjir tahun 2002 H0 : µ ≥ 100 Ha : µ < 100 2. Gerakan siklikal untuk periode banjir tahun 2007 1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan permasalahan yang telah ditentukan diatas, penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui bagaimana reaksi pasar modal dalam indeks LQ 45 di BEJ terkait dengan siklus banjir 5 tahunan di Jakarta. 1.3.2. Kegunaan Penelitian Penelitian ini mempunyai manfaat sebagai berikut: 1. Bagi peneliti Penelitian ini berguna untuk menambah pengetahuan tentang reaksi Pasar Modal di BEJ selama peristiwa banjir 2002 dan 2007 di Jakarta. 2. Bagi perusahaan Memberikan masukan dan pertimbangan kebijakan selanjutnya dalam menjalani kegiatan perusahaan khususnya menyangkut saham perusahaan. 3. Bagi praktek-praktek Profesional Dapat memberikan konstribusi bagi pemilik saham untuk mengambil keputusan bagi perusahaan yang tergabung dalam indeks LQ 45 sebagai landasan dalam pengambilan keputusan yang tepat di masa yang akan datang. 4. Bagi pengembangan disiplin ilmu Dapat dijadikan sumbangan pemikiran untuk pengembangan disiplin ilmu terutama Pasar Modal. |